MEMAHAMI PENTINGNYA TINGGAL TETAP DIDALAM TUHAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 14 November 2021)

Filipi 4:12-13 – “ Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku, baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus ini perlu kita cermati dengan baik, sebab Paulus bukan sembarang bicara tetapi memberi kita pemahaman penting bagaimana ia sendiri bisa bertahan dalam segala situasi kehidupan yang ia alami dengan tetap tinggal dalam Tuhan.

Kalimat “ Aku tahu “ dalam bahasa Yunani: EIDO yang mengandung arti melihat; mengalami; dan paham betul bagaimana rasanya. Paulus sedang memberi tahu kita bahwa ia melihat apa itu kelimpahan, ia mengalami kelimpahan itu dan ia paham betul bagaimana rasanya kelimpahan. Ia juga melihat apa itu kekurangan, mengalaminya dan tahu betul bagaimana rasanya kekurangan. Demikian juga Paulus melihat apa itu kekenyangan dan kelaparan, merasakan, dan tahu betul bagaimana rasanya kenyang atau lapar. Jadi Paulus bukan lagi ngecap atau jarkoni bisa ngajar tapi tidak bisa nglakoni, tetapi Paulus mengalami semuanya itu.

Dalam kehidupan ini, kita alami dua sisi realita kehidupan , yang dapat kita gambarkan sebagai :

  1. Menikmati nikmat dan manisnya berkat Tuhan.
  2. Menelan pil pahit kehidupan.

Dua realita kehidupan ini tidak dapat kita hindari, semua orang siapapun dia akan alami dua realita ini.  Jika kita melihat kebenaran Alkitab, tidak pernah dituliskan janji dari Tuhan bagi orang yang mengikut Tuhan untuk hal-hal yang kelihatannya manis.  Perhatikan :
Matius 16:24 – “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya. Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa orang yang menjadi pengikut-Nya akan hidup enak, selalu penuh berkat dan suka cita, tetapi ia harus menyangkal diri, ini penderitaan, selanjutnya memikul salib, ini pun jelas bukan sesuatu yang membahagiakan tetapi juga penderitaan. Jika siap dengan semua itu barulah bisa mengikut Yesus. Setiap orang yang siap menghadapi dan mengalami realita inilah yang nantinya Tuhan memang akan sediakan hal yang pantas kita terima kemudian sebagai berkat-berkat pemeliharaannya.

Bagaimana Paulus dapat menghadapi dua sisi realita kehidupannya? Rahasianya ada dalam:  Filipi 4:13 – “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Paulus memberitahu kepada kita, bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menanggung segala perkara, jika Paulus tidak memposisikan dirinya ada di dalam Kristus Yesus. Sebab dalam kenyataannya orang dapat siap pada kondisi kelimpahan tetapi tidak siap dengan kondisi kekurangan. Siap dengan kekenyangan tetapi tidak siap dengan kelaparan. Jika seseorang hanya siap dalam kondisi nyaman saja, tetapi tidak siap dalam realita kehidupan yang seperti menelan pil pahit, maka orang tersebut jelas tidak tinggal di dalam Kristus.

Contoh orang yang tinggal di dalam Tuhan dan orang yang tidak tinggal tetap di dalam Tuhan.
Ayub 2:9-10 – “Maka berkatalah istrinya kepadanya: Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!. Tetapi jawab Ayub kepadanya: Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?. Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”

Apa yang diungkapkan istri Ayub adalah aslinya kita manusia pada umumnya, hanya dapat menerima realita hidup yang nyaman dan penuh berkat, tetapi menolak realita kehidupan yang seperti menelan pil pahit seperti yang terjadi pada kehidupan suaminya dan berimbas pada seluruh keluarganya. Berbeda dengan Ayub, ia mampu menerima hidup dalam berkat dan kenyamanan, tetapi ia juga dapat menerima realita hidup yang pahit yang Tuhan ijinkan terjadi pada dirinya.  Untuk cakap menanggung dua sisi realita kehidupan ini, tidak ada cara ataupun jalan lain selain tinggallah di dalam Tuhan.

Yohanes 15:4 – “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Digambarkan seperti carang yang tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, jika ia tidak tinggal pada pokok pohonnya demikian juga kita. Kalimat “Segala perkara dapat kutanggung artinya kita dapat menghadapi semuanya itu, karena “Tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya.” Maka dari itu  jangan tutup telinga untuk dengar firman Tuhan;  jangan bosan dengar firman Tuhan yang mengajar kita; jangan lari dari firman Tuhan. Jika kita menjauh, apalagi menolak firman Tuhan, itu sama saja dengan kita kehilangan kekuatan yang dapat menanggung segala perkara itu.

Yohanes 15:5b – “…sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Paulus sanggup menghadapi segala perkara dalam dua realita kehidupannya karena ia tinggal di dalam Tuhan.  Itulah sebabnya ia dapat berkata : AKU TAHU , karena melihat, merasakan dan paham betul bagaimana rasanya pengalaman itu.

Filipi 4:13- “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Kata “Kekuatan” = ENDINAMO,  Artinya:  Memperkuat. Seperti lampu pada sepeda itu bisa menyala karena ada dinamonya sebagai sumber yang memberi kekuatan untuk menyala. Dalam kisah 10 anak dara yang menyongsong kedatangan mempelai yaitu Yesus dalam Matius 25:8-9. Lima gadis yang disebut bodoh cahaya pelitanya mulai padam karena tidak memiliki minyak sebagai Endinamonya, dan mereka ditolak untuk masuk pada pesta perjamuan Tuhan. Indikasinya adalah mereka merupakan orang yang percaya Tuhan tetapi tidak tinggal tetap di dalam Tuhan.

ARTI ENDINAMO selanjutnya adalah  menambah kekuatan terus-menerus sampai dapat tiba diakhir dalam posisi tetap tegak berdiri, tetap kuat. Gambarannya seperti orang yang kena strok dapat berjalan menuju tujuannya karena menggunakan krek yang biasanya bentuknya  seperti huruf U yang dibalik. Krek itulah Endinamonya yang memampukan ia berjalan sampai tujuan dengan tetap tegak berdiri/kuat. Nabi Yesaya menggambarkan orang yang di dalam Tuhan seperti burung rajawali.  Yesaya 40:31- “Tetapi orang-orang yang menanti-natikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Selanjutnya dalam Filipi 4:13- “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Kata “kutanggungdalam bahasa aslinya ditulis ISYU. Artinya memiliki kekuatan untuk tetap sehat rohaninya, sehingga dapat memperlihatkan komitmen dan tindakan yang ekstra dari yang seharusnya / umumnya. Untuk dapat memahami hal ini kita dalap lihat dalam Roma 5:3a- “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita…”

Bermegah dalam kesengsaraan – inilah yang tidak umum. Umumnya orang menderita tidak mungkinlah bermegah, apa yang dapat dimegahkan dalam penderitaan? Tidak ada. Tetapi orang yang tetap tinggal dalam Tuhan mampu bermegah justru dalam penderitaan. Mengapa?

Kata “bermegah” = KHAOCOUMEY. Artinya bergirang. Selain bergirang arti Khaocoumey selanjutnya  adalah melihat kesempatan untuk berjaya dan melihat kesempatan untuk dekat dengan Tuhan dalam doa.  Dari arti Khaocoumey inilah yang menjadi alasan Paulus untuk bermegah atau bergirang dalam kesengsaraannya, karena :

Roma 5:3-5a- “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan.”

Paulus tidak sekedar memberi penjelasan betapa pentingnya pemahaman untuk tetap tinggal di dalam Tuhan, tetapi juga berdasarkan pengalaman hidupnya. Dalam 2 Korintus 11:23-27- Tercatat puluhan daftar penderitaan Paulus yang tiada taranya. Dengan semua yang Paulus alami dalam penderitaannya sebenarnya cukup banyak alasan untuk ia mengeluh, kecewa dan mundur dari pelayanan Tuhan. Namun bisa dibuka dan dibaca 2Kor. 11:23-27. Tidak ada satu katapun yang mengungkapkan kekecewaan, sebab Paulus tinggal tetap kuat di dalam Yesus dalam setiap realita kehidupannya. Ia bermegah dan bergembira justru dalam penderitaannya, sebab kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan imannya, dan ketekunan itu menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan di dalam Tuhan dikatakan tidak mengecewakan. Orang yang tetap tinggal di dalam Yesus ia akan kuat, dan pantas untuk mengatakan SEKALI YESUS TETAP YESUS.

Leave a comment

Your email address will not be published.