PENGENALAN AKAN TUHAN – oleh Pdt. K. Hani Paulus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 24 Oktober 2021)

Ini adalah salah satu yang hilang karena kejatuhan manusia ke dalam dosa.  Manusia menjadi tidak mempunyai Pengenalan kepada Allah secara benar. Bahkan bangsa Israel sendiri yang merupakan milik kepunyaan Tuhan, sampai hari ini mereka tidak mengenal Allah dengan benar, Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus.

Kita mengetahui tingkat pengenalan kepada Dia ada tiga tingkatan sebagai orang yang sudah dewasa. Mengenal Dia sebagai hamba dan Dia adalah Tuan (Majikan) kita. Mengenal dia sebagai Sahabat dan kita sahabat-sahabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya karena kasih. Dan yang terakhir mengenal Dia sebagai mempelai dan Dia adalah Mempelai Laki-laki itu, dimana kita mengenal Dia dengan sempurna.

Marilah kita melihat bahwa Pengenalan akan Dia adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup kita. Bukan sekedar sebuah pengakuan, pengenalan ini membuat sikap hidup kita berubah yang berdampak pada tindakan dalam keseharian kita juga berubah. Kalau kita menyebut Dia setia, bukan sekedar tahu, tapi karena pengenalan kita kepada bahwa Dia adalah Allah yang setia. Pengenalan ini akan mengubah sikap hidup kita untuk mempercayai kesetianan-Nya sehingga mengubah perilaku keseharian kita untuk lebih mempercayai kesetiaan-Nya dalam menggenapi firman-Nya.

2 Petrus 1:3
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. 

Pentingnya Pengenalan akan Tuhan
Melalui pengenalan akan Tuhan, kita menyadari keberadaan kita. Keberadaan kita yang tidak berlayak dihadapan-Nya secara cepat dapat kita sadari. Kita juga menyadari bahwa Allah begitu mengasihi kita, manusia, dalam pengenalan tersebut. Bahwa Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna dengan cuma-cuma kepada kita agar supaya kita dapat hidup saleh dihadapan-Nya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa “Kita tidak dilahirkan dengan KOSONG”. Kita dilahirkan tidak tahu apa-apa, bodoh dan bergantung kepada orang lain untuk bisa bertahan hidup tetapi bukan berarti kita tidak membawa apa-apa.

Hidup kita seperti sebuah BENIH
Benih itu kecil, lemah dan tidak berarti. Coba kita taruh benih itu dilingkungan yang tepat, benih yang kecil itu punya potensi menjadi pohon dan selanjutnya tidak ada yang mustahil menjadi sebuah hutan. Demikian diri kita. Hari ini mungkin kita belum berarti apa-apa, tapi coba ditaruh dilingkungan yang tepat. Dia akan bertumbuh menjadi dewasa dan punya potensi untuk menjadi seperti apapun juga sesuai dengan rancangan Tuhan.

Alfa dan Omega – Rev 22:13  Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”

Itu sebabnya Allah kita dikenal sebagai Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Terdahulu dan Yang Terkemudian. Dia tidak dibatasi oleh waktu. Waktu ada di dalam tangan-Nya. Dia ada pada masa lampau, kini dan masa yang akan datang. Dia sudah menyelesaikan segala sesuatu, sejak awal dan pekerjaan-Nya sempurna.

Isa 46:9-10,  Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan,

Untuk Hidup yang Saleh
Dalam salinan KJV ditulis dengan dua kata yang berbeda yaitu untuk Hidup (Life = Zoe) dan untuk kesalehan (Godliness). Yang dapat disimpulkan bahwa kehidupan yang saleh adalah kehidupan yang penuh kesadaran tentang kehadiran Tuhan. Kesadaran ini penting sekali karena menghasilkan sikap hidup dan tindakan yang berbeda.

Kej 28:16-17  Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.”

Pengenalan Yakub kepada Allah yang hidup, membuat dia sadar akan kehadiran Allah di tempat dimana dia membaringkan kepala. Kesalehan ini (baca: Kesadaran) merubah sikap dan tindakannya. Dia jadi berani bertemu dengan Esau. Dia juga bernazar kepada Tuhan akan memberi sepersepuluh dari segala yang dia terima dari Tuhan, dst.

Pentingnya Pengenalan Akan Tuhan

Leave a comment

Your email address will not be published.