RUANG TUNGGU (5) – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1 dan 3 – Minggu, 17 Oktober 2021)

Pendahuluan
Sejatinya hidup dalam dunia ini adalah tentang menunggu. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara instan segalanya membutuhkan penantian. Inilah yang dimaksud dengan proses kehidupan. Itulah sebabnya Tuhan membawa anak-anakNya masuk ke ruang tunggu untuk menjalani proses kehidupan.

Kita sudah mempelajari beberapa alasan mengapa Tuhan membawa anak-anakNya berada di ruang tunggu.
1. Ruang tunggu melatih kesabaran.
Kesabaran tumbuh melalui sebuah penantian bukan proses yang instant. Kesabaran tidak berkembang saat mendapatkan, kesabaran berkembang saat kita menantikan. Orang-orang yang sabar menunggu senantiasa percaya bahwa pertolongan Tuhan tidak selalu datang pada waktu yang cepat tetapi pertolongan Tuhan pasti datang pada waktu yang tepat.

2. Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi.
Ketahuilah kemenangan dalam peperangan kehidupan bukan ditentukan karena lemahnya lawan yang dihadapi atau besarnya kekuatan yang kita miliki, tetapi oleh kuasa Ilahi yang menyertai.

3. Di ruang tunggu Allah menguji iman kita.
Kualitas iman ditentukan melalui proses pengujian. Dan salah satu proses ujian iman adalah saat kita berada di rumah menunggu menantikan jawaban Tuhan. Orang-orang yang imannya berkualitas, mampu mengasihi Tuhan tanpa ada batas.

4. DI RUANG TUNGGU KITA MENDAPATKAN KEKUATAN BARU
Ruang tunggu bukan sekedar tempat untuk menunggu waktu berlalu, tetapi ruang tunggu adalah tempat dimana kita menemukan kekuatan baru.

Banyaknya masalah terkadang membuat kita lelah, namun jangan pernah menyerah. Jika engkau lelah, masuklah ke ruang tunggunya Allah, di sana kita akan mendapatkan kekuatan yang baru dengan limpah.

Sekarang marilah kita mempelajari “Ruang tunggu 5.”

Di ruang tunggu kita menerima dari Tuhan agar mendapat membagikan

Inilah kebenaran yang harus kita pahami dalam pengiringan kita kepada Tuhan. Kita harus menerima lebih dahulu dari Tuhan agar kita mendapat membagikan kepada semua orang. Namun sayang banyak orang kristen tidak memahami kebenaran ini, sehingga dalam perjalanan imannya, mereka mengalami kelelahan, jalan buntu, kesedihan persungutan bahkan kegagalan. Banyak orang kristen selalu dipush, didorong, dimotivasi agar memberikan kepada Tuhan. Ini tidak salah, tetapi mana mungkin kita bisa memberikan tanpa terlebih dahulu menerima? Itulah sebabnya Tuhan membawa kita masuk di ruang tunggu agar kita menerima dari Tuhan kemudian barulah kita dapat membagikan.

Gagal menerima, gagal membagi.
Sadarilah, bahwa kegagalan kita menerima adalah kegagalan kita membagikan. Contohnya adalah murid-murid Yesus. Murid-murid gagal memberi makan 5.000 orang yang mengikut Yesus, karena mereka tidak memiliki makanan. Mereka berkata: “yang ada pada kami 5 roti dan 2 ikan, apalah artinya semuanya ini?, itu tidak cukup untuk memberi makan orang sebanyak ini.”

Tetapi apa yang terjadi setelah menerima roti dan ikan dari Yesus?
Markus 6:41
Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.

Setelah murid-murid menerima roti dan ikan dari tangan Tuhan Yesus, mereka membagikannya kepada semua orang yang ada di situ. Dan semua makan sampai kenyang, bahkan sisa 12 keranjang.

Ketahuilah, jika kita mengandalkan apa yang kita miliki, maka semuanya itu tidak mencukupi. Sadarilah bahwa segala sesuatu yang bersumber dari diri kita itu terbatas, tidak cukup, akan habis, kurang, tidak memadai. Oleh sebab itu, jangan andalkan diri kita sendiri, kita harus masuk ke ruang tunggu Allah untuk menerima anugerah dari tangan Allah. Tanpa anugerahNya segala yang kita lakukan akan menuai kegagalan, tetapi jika kita menerima dariNya yang dianggap kurang berkecukupan, yang sedikit malah berkelimpahan.

Kisah seorang perempuan Samaria. (Yohanes 4)
Selama ini kehidupan wanita Samaria bergantung dari apa yang datang dari dunia. Setiap hari ia pergi ke sumur Yakub untuk menimba air, tetapi tidak pernah menerima kepuasan dalam hidupnya. Hidupnya penuh kehausan, kehampaan, dan kekosongan dalam jiwanya. Bahkan untuk memenuhi kepuasan hidupnya, ia berpindah-pindah dari pelukan satu laki-laki kepada laki-laki yang lain. Namun syukur kepada Allah, sebab pada saat itu, di tepi sumur Yakub ia bertemu dengan Yesus. Yesus berkata: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus lagi..” (Yoh 4:13-14)

Sejak menerima air kehidupan dari Yesus, hidupnya diubahkan dan hatinya dipulihkan. Dia bukan lagi seorang pencundang, tetapi pemenang kehidupan.

Maria dan Marta. (Luk 10:38-42)  Dari Lukas 10:38-42, kita dapat

Maria

Marta

Pelajaran bagi kita.
1. Kita harus dilayani oleh Tuhan terlebih dulu sebelum melayani Tuhan dan sesama.
Maria sadar bahwa untuk dapat melayani ia harus lebih dahulu dilayani oleh Tuhan. Itulah sebabnya ia duduk diam di kaki Yesus, membiarkan Yesus melayaninya dengan firmanNya sebelum ia berdiri untuk melayani. Berbeda dengan Marta, ia merasa bisa sehingga langsung bekerja tanpa duduk di kakiNya. Tapi apa akhirnya? Marta kelelahan sehingga yang timbul persungutan dan tuntutan. Kepada Yesus ia berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Percayalah, tanpa menerima pelayanan dariNYA, kita gagal untuk melayani. Karena itu duduklah di kakiNya, biarkan DIA melayani kita sebelum pergi melayani DIA dan sesama.

2. Kita harus menerima kasih dari Tuhan agar dapat mengasihi semua orang.
Tidak mungkin kita bisa mengasihi tanpa menerima kasih dari Tuhan. Untuk bisa mengasihi kita harus merasakan dan menerima kasih Tuhan lebih dahulu. Contohnya adalah seorang wanita yang meminyaki Yesus dengan minyak wangi. (Lukas7:37-39)

Saat Yesus sedang makan di rumah orang Farisi datanglah seorang wanita membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Mengapa wanita ini bisa melakukan tindakan kasih yang sangat besar?

Mari kita lihat Lukas 7:47  Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

Ketahuilah, ukuran Anda menerima kasih dari Tuhan, menentukan ukuran kasih yang Anda berikan kepada Tuhan. Wanita ini telah menerima kasih yang sangat besar dari Tuhan, dosanya yang banyak telah diampuni, itulah sebabnya ia dapat mengasihi Tuhan tanpa batasan.

Tuhan memberi tubuh dan darahNYA. (Matius 26:26-28)
Perjamuan Tuhan hari ini tentunya mengingatkan kita kepada pengorbanan Kristus. Tuhan Yesus memberikan tubuh dan darahNya bagi manusia agar manusia menerima kehidupanNya. Ingatlah yang firman Tuhan katakan. Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”

Perjalanan kita masih panjang. Di depan ada tantangan dan kesulitan telah menghadang, sebab itu terimalah apa yang Tuhan berikan kepada kita. Terimalah tubuh dan darahNya sebagai makanan rohani kita agar mampu melanjutkan perjalanan. Duduk diamlah di ruang tunggu Tuhan untuk menerima kekuatan, hikmat dan pemulihan. Tuhan memberkati.

Leave a comment

Your email address will not be published.