RUANG TUNGGU – 7 – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 12 Desember 2021)

Pendahuluan
Tahun 2021 akan segera berlalu, namun kita masih berada di ruang tunggu. Hari ini kita mempelajari seri yang ke tujuh.

Kita semua sadar bahwa tidak ada yang instan dalam kehidupan. Kehidupan berjalan sesuai proses yang Tuhan telah tetapkan. Menunggu memang kadang melelahkan, tetapi jangan pernah bosan sebab orang-orang yang menunggu dengan kesabaran akan menemukan kebahagiaan, mereka yang menunggu dengan setia akhirnya mendapat hasil yang sempurna.

Kita sudah memperlajari alasan-alasan mengapa Tuhan membawa kita masuk ke ruang tunggu.

  1. Di Ruang tunggu Tuhan melatih kesabaran kita.
  2. Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi.
  3. Di ruang tunggu Allah menguji iman kita.
  4. Di ruang tunggu kita mendapatkan kekuatan baru.
  5. Di ruang tunggu kita menerimadari Tuhan agar mendapat membagikan.
  6. Di ruang tunggu kita diam agar Tuhan yang berperang

Selain enam alasan yang sudah kita pelajari, sekarang marilah kita melihat alasan ketujuh, megapa Tuhan membawa anak-anakNya masuk ke ruang tungguNYA.

  1. Di ruang tunggu kita diam agar dapat melihat TUHAN

Mazmur 46:11
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”

Sudah dua tahun lebih virus corona telah mengguncang dunia. Berawal di Kota Wuhan, Tiongkok, virus corona  langsung menyebar dengan cepat ke banyak negara dan ke semua benua, menulari ribuan hingga jutaan manusia. Jenisnya kini juga telah beranak pinak menjadi banyak dari Alpha, Beta, Gamma, Delta, Epsilon, Zeta, Eta, Theta, Iota, Kappa. Dan yang paling baru adalah varian Omicron.

Sadarkah saudara mengapa dunia selalu mengalami kegoncangan? Berbagai macam goncangan datang silih berganti menghantam sendi-sendi kehidupan. Rasanya setiap hari kita selalu mendengar berita-berita yang menakutkan, mulai dari meningkatnya kejahatan di jalanan, ancaman krisis moneter/energi, radikalisme, kekurangan pangan hingga bencana alam yang dapat datang kapan saja.Kita tidak dapat menghindari datangnya goncangan, goncangan pasti akan terjadi, tetapi yang penting adalah bagaimana kita menyikapi goncangan yang terjadi.

Ketika goncangan terjadi banyak orang mulai panik, kuatir bahkan tidak sedikit yang mengalamiketakutan. Akibatnya orang-orang kehilangan harapan dan keberanian, mereka hanya melihat ancaman bukan kemenangan, melihat kelemahan bukan kekuatan, mereka terintimidasi bukan mendapat solusi, mereka fokus kepada masalah bukan fokus kepada Allah. Agar kita dapat mengadapi semua pukulan akibat goncangan maka yang perlu dilakukan adalah: masuklah ke ruang tunggu Allah. Di ruang tunggu kita diam agar dapat melihat Tuhan. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”

Dalam kepanikan dan ketakutan, kita tidak bisa melihat Tuhan, kita hanya melihat masalah yang menghadang dan musuh yang menyerang. Hanya saat kita diam kita akan melihat Tuhan dengan segala kuasa dan kebesaran yang dimilikiNya.

1Petrus 4:7
Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

Banyak orang Kristen tidak bisa berdoa, bukan karena tidak ada waktu untuk berdoa atau tidak bisa berdoa, tetapi karena hati dan pikiran mereka tidak tenang. Tubuh mereka diam, tetapi pikiran melayang. Tubuhnya memang diam tapi hatinya tidak tenteram.

Contoh: Matius14:26
Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.

Saat murid-murid sedang menyeberangi danau Galilea, tiba-tiba datanglah taufan melanda danau itu sehingga perahu mereka terombang-ambing di tengah lautan. Dalam keadaan yang sangat menakutkan atara hidup dan mati, Tuhan Yesus datang berjalan diatas air mendekati mereka. Kemudian apa yang terjadi? Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.

Sekali lagi, mengapa murid-murid tidak dapat mengenali Yesus yang datang mendekati mereka? Sebab mereka ketakutan, mereka tidak bisa diam!

Sadarilah, apa yang kita lihat menentukan apa yang kita dapat.

Oleh sebab itu jika kita ingin melihat kebesaran Tuhan, masuklah ke ruang tunggu, diam di hadiratNya dan lihatlah Tuhan.

Percayalah, hanya orang-orang bisa diam dihadapanNya akan mengetahui betapa besar, agung dan berkuasaNya Tuhan. Kadang-kadang masalah hidup yang kita hadapi menutupi pandangan kita sehingga tidak dapat melihat besarnya kuasa Tuhan. Kita hanya melihat masalah yang di depan mata, tetapi gagal melihat Tuhan yang maha kuasa.

Orang-orang yang bisa diam di dalam Tuhan, selalu memiliki kemampuan untuk melihat Tuhan sehingga memiliki keberanian untuk menghadapi apapun yang terjadi. Mari kita melihat beberapa orang yang memilih diam dan meilhat Tuhan saat tantangan dan kesulitan hidup mereka alami.

1. Raja Yosafat – 20
Pada waktu itu suatu laskar yang besar yaitu persekutuan bani Moab dan bani Amon serta orang-orang Meunim hendak menyerang bangsa Yehuda. Mengetahui datangnya ancaman, raja Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.

Inilah keputusan yang tepat yang diambil oleh raja Yosafat. Ditengah-tengah ketakutan karena datangnya ancaman, raja Yosafat memilih diam di ruang tunggu.

Mari kita melihat apa yang dilakukan Yosafat saat diam di ruang tunggu Allah?

2Taw. 20:12
Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” 

Yosafat memilih untuk melihat Tuhan daripada melihat musuh yang datang. Mata Yosafat tertuju kepada Allah, bukan kepada masalah. Yosafat memilih memandang Tuhan bukan memandang keadaan.

Apa yang terjadi saat raja Yosafat memandang Tuhan? Saat raja Yosafat dan segenap bangsa Yehuda memilih memandang Tuhan, maka Tuhan memberikan keajaiban. Tuhan sendiri yang berperang menghancurkan musuh-musuh Yehuda.

Ayat 22
Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah.

2. Ayub
Ayub seorang mengalami ujian hidup yang datang bertubi-tubi, mulai dari kehilangan ternaknya, harta kekayaannya, 10 anaknya meninggal bersama-sama, bahkan sekujur tubuhnya menderita sakit yang parah, sahabat-sahabatnya datang mengunjunginya. Sayangnya mereka datang bukan untuk memberikan penghiburan, kekuatan atau pertolongan, tetapi sebaliknya mereka malah mencemooh, menuduh dan menyalahkan Ayub bahwa semua ini terjadi karena Ayub bersalah kepada Allah.

Dalam keadaan yang demikian apa yang dilakukan Ayub?
Ayub 16:20
Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis.

Inilah alasannya mengapa Ayub begitu kuat menghadapi berbagai ujian hidup yang datang silih berganti, sebab Ayub memilih diam dan memandang Tuhan.

Dari dalam kitab Ayub,  kita dapat mengetahui keteguhan iman Ayub. Segala yang dimiliki Ayub dapat hilang, tetapi imannya tidak pernah hilang. Kekayaannya bisa lenyap, tapi imannya tinggal tetap.

Mari kita lihat cara Ayub diam dan memandang Tuhan.
a. Saat kehilangan segalanya
Ketika segala yang dimilikinya hilang ia berkata:
Ayub 1:20,21
Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Dalam kehilangan Ayub tetap diam, tak ada keluhan apalagi persungutuan. Ayub memilih memandang Tuhan sebagai sang pemberi berkat, bukan berkat yang Dia berikan. Bagi Ayub kekayaan sejati bukan apa yang Tuhan beri tetapi DIA yang memberi.

Dalam kehilangan, kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah diam dari pada menjelasakan apa yang kita rasakan. Sebab tidak semua orang memiliki pengertian akan apa yang kita rasakan, kebanyakan mereka hanya ingin tahu apa yang kita alami, namun sesungguhnya tidak banyak yang peduli. Jadi untuk apa menjelaskan jika akhirnya itu menyakitkan, pilihlah diam dan memandang TUHAN.

b. Saat beban hidup makin berat
Ayub 2:13
Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.

Saat beban hidup makin  berat, Ayub memilih untuk tetap diam, tetapi dalam diamnya, Ayub memandang Tuhan. Ayub percaya bahwa dibalik semua yang terjadi dan yang dia alami, tangan Tuhan pegang kendali

Ayub dengan yakin berkata :
Ayub 23:10
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

c. Ketika hidup seolah-olah tidak memberi harapan.
Ayub 7:6  Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.

Ayub 17:15  maka di manakah harapanku? Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku?

Memandang keadaan Ayub tidak memiliki harapan, tetapi memandang Tuhan, harapannya dipulihkan.

Ayub 42:1,2
Maka jawab Ayub kepada TUHAN: Ia berkata: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

Penutup
Apapun yang kita alami, masuklah ke ruang tunggu Allah, diamlah dan pandanglah Allah.

Wahyu 1:17,18
Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Tuhan memberkati. KJP!

Leave a comment

Your email address will not be published.